Header Ads

Bahaya Memakan Kerupuk Kulit

Baca juga artikel terkait lainnya

Pada dasarnya kulit sapi yang diolah untuk di jadikan kerupuk kulit mengandung zat yang bermanfaat bagi tubuh. Namun ketika kerupuk kulit tersebut di buat dari limbah kulit bahan dasar pembuatan sepatu atau tas maupun jiket maka kandungan zat tersebut akan berkurang bahkan habis pada saat pengolahan kulit berlangsung. Adapun zat yang terkandung dalam kerupuk kulit sapi yang tidak berbahan baku limbah kulit bekas pembuatan sepatu atau tas maupun jiket adalah sebagai berikut :

a. Protein

Berdasarkan penelitian pada kerupuk kulit yang telah lama beredar dan di perdangangkan oleh masyarakat di peroleh kandungan protein pada kerupuk kulit sebesar 82,91%, sebab kerupuk kulit adalah produk hewani tanpa campuran sehingga kadar proteinnya tinggi .

b. Lemak

Kandungan lemak kerupuk mentah umumnya rendah, namun kerupuk mentah tidak umum di makan langsung melainkan harus digoreng terlebih dahulu baru layak di konsumsi . Setelah di goreng, kandungan lemak meningkat menjadi 20-30 kali lipat tergantung pada bahan yang di gunakan dalam pembuatan kerupuk tersebut dan cara menggoreng (ditiriskan atau tidak); dengan demikian kerupuk goreng dapat merupakan sumber konsumsi minyak dari hidangan secara tidak sengaja sehingga menguntungkan bagi individu yang membutuhkannya, namun merugikan bagi individu yang harus membatasi konsumsi minyak . Kadar lemak yang terkandung pada kerupuk kulit mentah sebesar 3,84% per 100 g.



c. Mineral

Kadar mineral yang terkandung dalam kerupuk kulit hanya sebesar 0,04% . Mineral ini umumnya terdiri dari kalsium, fosfor, besi dan mineral lainnya yang berasal dari bahan dasar kerupuk tersebut .

d. Natrium glutamat ( MSG atau NaG bebas)

Natrium glutamat (MSG atau NaG bebas) yang terkandung pada kerupuk kulit sebesar 0,8 g – 5,3 g per 100 g kerupuk kulit dengan rata-rata 3,05 g per 100 g.

Kelompok glutamat sebagai garam kalsium, kalium dan natrium merupakan kelompok bahan tambahan makanan (BTM) yang berfungsi sebagai penguat rasa atau meningkatkan rasa enak dalam pembuatan makanan olah khususnya kerupuk. Menurut beberapa artikel, penggunaan glutamat sebagai mono-natrium glutamat (MSG) berkisar antara 0,3– 0,5 g per 100 g(7,8), sedang menurut Permenkes, jumlah penggunaan dinyatakan sebagai “secukupnya” saja. 

Jumlah yang didapatkan pada penelitian sederhana ditemukan penggunaan MSG rata-rata 7,5 kali lebih besar. Glutamat tidak toksik namun ada kelompok tertentu yang sangat peka terhadap garam ini. Kepekaan ini mungkin terjadi karena MSG adalah neurotransmitter yang bila dikonsumsi dikonversi menjadi suatu zat yang menghantarkan stimulasi dan satu sel saraf ke sel saraf lain sehingga mengakibatkan timbulnya Chinese restau- rant syndrome (CRS). 

Karakteristik CRS adalah simtom temporer berupa perasaan kaku bagian tengkuk menyebar ke bagian tangan, punggung, merasa lemas, denyut jantung lebih cepat, pusing, muka memerah, sesak nafas dan perasaan tidak enak; selanjutnya karena MSG adalah kelompok garam, efek- nya hampir sama dengan garam dapur yang jika dikonsumsi banyak akan meninggikan tekanan darah(9-12). Karena adanya kelompok masyarakat yang peka terhadap MSG, sangat di- sayangkan penggunaan MSG yang besar di dalam kerupuk yang dipenksa. 

Sebenarnya, penambahan terlalu banyak ke dalam pembuatan kerupuk tidak perlu karena dan segi kesehatan jumlah besar tidak akan menambah rasa enak malah membuat mual atau salah satu akibat tersebut di atas, dan dari segi ekonomi harga produk akhir malah bertambah mahal.

e. Zat pewarna

Kerupuk kulit pada dasarnya tidak mengandung zat pewarna, baik pada waktu pengolahan pembuatannya .
Selain beberapa zat-zat tersebut diatas, di dalam kerupuk kulit khususnya kerupuk yang terbuat dari limbah kulit juga terkandung berbagai jenis zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan. 

Hal ini disebabkan karena kulit yang akan dijadikan sepatu, tas, maupun jaket berarti telah melalui proses kimiawi seperti pengerasan, pewarnaan, dan lainnya sehingga tidak lagi layak dikonsumsi manusia. Kulit yang telah disamak antara lain mengandung timbal, krom dan arsenik yang bila dikonsumsi manusia bisa menyebabkan efek lebih lanjut seperti kanker.

Powered by Blogger.